Penataan Ruang Perkembangan Wilayah & Tata Kelola Lingkungan Perkotaan

Thursday, June 27 th, 2019 ·

Selasa 25 Juni 2019 Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL-UI) mengadakan seminar presentasi mahasiswa dalam rangka meningkatkan kontribusi pemikiran mahasiswa SIL-UI kepada isu-isu terkini pada aspek penataan ruang, pengelolaan lingkungan perkotaan berkelanjutan, rencana pemindahan ibukota negara dan perencanaan aspek pangan dan air perkotaan yang berkelanjutan. Kegiatan ini bertempat pada Gedung IASTH lantai 3 Universitas Indonesia Salemba.

SIL-UI turut mengundang narasumber dari Ditjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan tanah, Kementrian ATR/BPN, Dr. Andi Renald, S.T., M.T. yang juga alumni program doktoral SIL-UI. Beliau memaparkan tentang penataan ruag kawasan perkotaan berkelanjutan dan rencana pemindahan ibu kota negara. Menurut beliau, penting dilakukan review dari segala aspek untuk kajian pemindahan ibukota negara.

Indonesia merupakan salah satu negara yang turut mensukseskan Sustainable Development Goals (SDG’s). Tujuan ke-11 dari SDG’s berfokus pada bagaimana menjadikan kota yang nyaman, inklusif, aman dan berkelanjutan. Padahal  masih banyak permasalahan perkotaan yang terjadi di Indonesia. Saat ini kota mulai defisit energi dan ketersediaan air bersih, tingkat kemacetan yang semakin tinggi, kualitas udara yang memburuk, disparitas pembangunan dan juga bencana alam. Selain itu, isu perkotaan di Indonesia juga tidak lepas dari alih fungsi ruang yang masif. Oleh karenanya dibutuhkan keterlibatan semua elemen masyarakat dalam mengimplementasikan tujuan dari SDG’s tersebut.

Pelaksanaan penataan ruang di Indonesia saat ini telah memasuki babak baru, yaitu pemanfaatan ruang berdasarkan rencana tata ruang yang telah ditetapkan dan pengendalian pemanfaatan melalui penerapan sanksi bidang penataan ruang agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. Strategi perwujudan pengendalian pemanfaatan tata ruang diselenggarakan untuk menjamin terwujudnya tata ruang sesuai dengan yang direncanakan. Beliau menyatakan, pemerintahan yang baik sangat erat kaitannya dengan implementasi tata ruang yang baik. Sehingga penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sesuai dengan rancangan tata ruang. Kondisi ini masih belum diterapkan secara maksimal di perkotaan Indonesia.

Wacana pemindahan ibukota negara sudah ada sejak lama. Salah satu alasan yang melatarbelakangi pemindahan ibukota adalah kondisi jejak ekologi (Ecological footprint) di pulau Jawa sudah mengalami defisit. Menurut data statistik, 41 persen pembangunan nasional  terdapat di Pulau Jawa. Sehingga perubahan atau alih fungsi lahan terjadi sangat ekstrem. Pebangunan yang masif di Jawa sudah melebihi ambang batas daya dukung dan daya tampung lingkungan. Selain itu, 60 persen resiko bencana alam terjadi di pulau Jawa. Data-data tersebut menjadi acuan pemindahan ibukota harus dilakukan di luar Pulau Jawa.

Pemerintahan saat ini condong kepada wilayah Kalimantan Timur sebagai wilayah yang menjadi tujuan pemindahan ibukota. Dengan pertimbangan aksesibilitas dan resiko bencana, Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi kandidat utama.

Terdapat dua skenario dalam pemindahan ibukota, yaitu tanpa resizing jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) dan dengan resizing atau pengurangan jumlah ASN dengan estimasi biaya lebih ringan. Pemerintah telah menyiapkan skema sumber pembiayaan untuk membangun ibukota yang baru. Pembiayaan berasal dari empat sumber, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) serta pihak swasta. Sehingga anggaran tersebut tidak menjadi beban di satu pihak.

Setelah sesi materi dan diskusi bersama Bapak Andi Renald, Seminar dilanjutkan dengan sesi presentasi mahasiswa dari kelas 37A Khusus yang membahas tentang wajah Jabodetabek dalam aspek penataan ruang perkembangan wilayah & tata kelola lingkungan perkotaan, kemudian dilanjutkan presentasi oleh kelas S3 tentang kajian Perpindahan Ibukota Negara. Setelah itu, presentasi selanjutnya dibawakan oleh perwakilan kelas 37B Reguler tentang Implementasi Penataan Ruang dan Pembangunan Wilayah Kalimantan Timur serta 36A khusus tentang Food and Water Security for Sustainable Development.

Bapak Rudi P. Tambunan sebagai dosen pengampu mata kuliah berharap, semoga kegiatan seminar presentasi seperti ini dapat berlanjut menjadi agenda rutin SIL-UI dalam mengintegrasikan keilmuan antar mahasiswa dalam membahas satu isu yang sedang terjadi di Indonesia untuk menghasilkan sebuah kesimpulan bersama.

Download File

(red: kunny)

X