International Conference On Environmental Science and Sustainable Developmentc (ICESSD)

Thursday, October 24 th, 2019 ·

22-23 Oktober 2019 Sari Pasifik Jakarta

Dr. Hayati Sari Hasibuan, Director of ICESSD 2019

Konferensi ini adalah konferensi tentang bagaimana menguatkan pencapaian SDGs di Southeast Asia. Mengapa Southeast Asia? karena merupakan daerah yang vital dan strategis secara kewilayahan, mengcover 4.5juta kmpersegi dari wilayah dunia, dan jumlah penduduk 641juta, secara geografis menjadi penting, tutur Conference Director of ICESSD, Dr. Hayati Sari Hasibuan yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister Ilmu Lingkungan.

Sebagai lanjutan dari konferensi sebelumnya yaitu ICSOLCA 2018, demi mencapai Sustaniable development goals, dibuatlah seri konferensi pada tahun 2019, dan wilayah Southeas Asia dipilih juga didasari atas perpanjangan kerjasama dengan Oxford University.

ICESSD 2019 ini Sekolah Ilmu Lingkungan (SIL) menggandeng Pusat Studi Asia Tenggara (CSEAS) dan Sekolah Pascasarjana Studi Wilayah Asia dan Afrika (ASAFAS) Universitas Kyoto. Konferensi ini menyediakan forum bagi akademisi, pemerintah, masyarakat sipil dan sektor swasta untuk berpartisipasi berbagi penelitian dan teknologi menuju pembangungan berkelanjutan (SDGs). Mulai dari sisi lingkungannya, bagaimana pengelolaan air, sampah, lingkungan, perencanaan ruang, hubungan masyarakat, hutan berkelanjutan, dan upaya lainnya untuk mencapai tujuan.

Associate Prof. Dr. Emil Budianto, Director of School of Environmental Science UI.

Membuka Konferensi, Dr. Emil Budianto, Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan menyampaikan masalah lingkungan adalah masalah dinamis, kompleks yang membutuhkan analisis dan instrumen pengambilan keputusan yang dapat mengakomodasi karakter lingkungan. Ilmu Lingkungan UI mempelajari ilmu antar disiplin ilmu untuk memahami interaksi kompleks dan dinamis dalam sistem lingkungan. Antar disiplin ilmu ini memungkinkan adanya perumusan upaya untuk memecahkan masalah lingkungan di Indonesia secara holistik dan komprehensif untuk keberlanjutan lingkungan.

Emil Budianto berharap diskusi selama konferensi akan mengarah pada inisiatif dan inovasi dalam mendapatkan kekuatan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Pembicara kunci diambil dari berbagai sudut pendekatan Raldi Hendro Koestoer, Ph.D., mengangkat isu lingkungan di Southeast Asia, dan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara di Asean yang terkait isu lingkungan terutama perubahan iklim dan kegiatan manusia yang berpengaruh kepada perubahan iklim. Harus ada kontribusi dari akademisi dan peneliti asean dalam memitigasi isu-isu ilmu lingkungan.

Plennary Speakers.

Prof. Ben White, Studi Lingkungan dan Pertanian, International Studies of Social Studie Netherland, berbicara tentang fenomena pertanian dan perubahan keinginan generasi muda tidak memilih sektor pertanian sebagai pekerjaan.

Prof. Yoko Hayami, CSEAS Kyoto University, bagaimana pemahaman masyarakat lokal dalam memahami lingkungan dan keberlanjutannya. Tanpa memahami masyarakat lokal jangan berharap keberlanjutan lingkungan dapat ditingkatkan. Studi yang dilakukan adalah tentang humanosphere.

Prof. Jeon Je Seong, Korean Institute for Southeast Studies, Chonbuk National University, Korea Selatan, menekankan bahwa masa sekarang ini dikarakteristikkan dengan pembangunan dimensi manusia. Melihat hubungan antara Indonesia dengan Korea, perlu dijaga tenaga-tenaga kerja Indonesia pada perusahaan milik Korea. Indikator kinerja didalam melakukan hubungan berpusat pada manusia. Ketenagakerjaan mengatur hak-hak tenaga kerja yang berasal dari Southeast Asia baik tenaga kerja asing di Korea maupun negara lainnya dalam lingkup industri Korea. Membentuk aktivis solidaritas untuk membantu pemenuhan hak-hak tenaga kerja.

Jeetendra Kumar, Managing Director Asia of Pitney Bowes Software, India (Mapinfo), membahas bagaimana support system yang berbasis lokasi. Pentingnya teknologi Analisis Lokasi (GIS) untuk lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Berasal dari software yang dibangun mapinfo, berbasis ruang yang hanya bisa diterjemahkan dengan menggunakan peta dan analisis ruang.

Closing Remarks, Prof. Dr. Emil Salim.

Prof. Dr. Emil Salim, Bapak Ilmu Lingkungan Indonesia, menutup ICESSD 2019. Masalah krusial yang dipertaruhkan dalam menjaga dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan adalah menghubungkan tiga aspek yaitu pembangunan lingkungan, ekonomi, dan social. Ketika interkoneksi ketiganya tidak berjalan dengan tepat dan seimbang, maka akan menimbulkan kegagalan pembangunan berkelanjutan.

Indonesia saat ini tengah menghadapi kebakaran hutan serius yang melanda Riau, Jambi, Sumatera dan Kalimantan. Fakta paling menyakitkan adalah, pada tahun 2015, daerah ini sudah mengalami kebakaran, namun pada tahun 2019 ini menghadapi hal yang sama. Yang mendasari kebakaran hutan ini adalah bentrokan antara keuntungan ekonomi jangka pendek melalui perkebunan yang membutuhkan pengeringan tanah, dibandingkan dengan pengelolaan sumber daya lahan gambut yang ramah lingkungan. Ketika keuntungan berbicara, ia mendominasi sektor politik dan menetapkan arah pada eksploitasi sumber daya lahan gambut.

Mari kita berharap hasil konferensi ini memberikan percikan dialog di masa depan untuk memperkuat interkonektivitas dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan, tutup Emil Salim.

Dokumentasi Lengkap Kegiatan (Google Drive)

(red: Caturingtyas Pangestuti; doc: PW & Sandy Leo)
X