“Kapitalisasi Pekarangan Berwawasan Lingkungan Melalui Budi Daya Sambung Nyawa” Promosi Doktor Ilmu Lingkungan: Harris Susanto

Senin, Agustus 02 nd, 2021 · , ,

Rabu, 7/07/21 telah dilakukan Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Lingkungan atas nama promovendus Harris Susanto. Harris Susanto saat ini menjabat sebagai Direktur Utama sekaligus pemilik PT. Luas Birus Utama.telah berhasil mempertahankan Disertasinya dengan judul “Kapitalisasi Pekarangan Berwawasan Lingkungan Melalui Budi Daya Sambung Nyawa”  dalam Sidang Terbuka yang dilakukan secara Daring.

Sidang Terbuka Promosi Doktor atas nama promovendus Harris Susanto dipimpin oleh Direktur SIL Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, M.Si. dengan promotor Dr. Drs. Suyud Warno Utomo, M.Si. dan sebagai ko-promotor Drs. Raldi H.S. Koestoer M.Sc., Ph.D., dan Dr. Ir. Moh. Hasroel Thayib, APU.  Bertindak sebagai majelis penguji dalam sidang terbuka promosi doktor ini antara lain Prof. Dr. Ing. Ir. Misri Gozan, M. Tech., IPU.,  Dr. Achjar, S.S., M.Hum., Dr. Evi Frimawaty, S.Pt., M.Si., Prof. Dr.Ir. H. Hadi Susilo Arifin, M.S., Dipl. RLE., Dr. Ir. Listyani Wijayanti.

Dalam Sidang Terbuka promovendus Harris Susanto menyampaikan Novelty atau kebaruan atas Disertasinya itu bahwa Potensi luas pekarangan di Indonesia sebesar 10,3 juta Ha dan tanaman Gynuraprocumbens yang mempunyai manfaat: a). sumber karbohidrat, b). sumber vitamin dan mineral, dan c).  mencegah penyakit kanker, obat alternatif untuk membantu mengatasi diabetes dan darah tinggi, belum diteliti oleh komunitas dan pebisnis. Hal ini menimbulkan gagasan membentuk role model hubungan penanaman daun G. procumbens dan produsen salad daun agar memberikan manfaat ekonomis, sosial, ekologi bagi pemilik lahan dan potensi mendukung tujuan SDGs. Metode riset adalah mengukur produktivitas tanaman G. procumbens, manfaat ekologi, manfaat ekonomi pekarangan dan melakukan investasi di industri salad dengan hasil sebagai berikut: produktivitas G. procumbens sebesar 4,5 kg/m2/45 hari, active income sebesar Rp 705.460,00 ditambah dengan insentif Rp 1.000,00 per kemasan salad daun yang terjual, serapan karbon 578,4 g/m2/tahun, produksi oksigen 121,5 g/m2/tahun, serta berhasil dikembangkan konsep hulu-hilir untuk terjadinya keberlanjutan usaha pemanfaatan pekarangan berwawasan lingkungan sebagai pendukung tujuan ke-12 SDGs.

Sambung nyawa ditanam di bawah naungan kunyit, lengkuas, stratum B,C,D, dan E

Peserta sosialisasi berfoto bersama di lahan budi daya

Dalam penjelasannya Promovendus Harris Susanto menyatakan bahwa manfaat ekologi budidaya sambung nyawa di pekarangan cakupannya sangat luas, salah satu yang penting adalah penyerapan karbondioksida. Sehingga dalam rekomendasinya Promovendus Harris Susanto menyatakan bahwa memerlukan dukungan pemerintah yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mempromosikan pekarangan ramah iklim ke dalam skema jual beli karbon atau bahkan insentif dalam pembayaran pajak bangunan, sehingga masyarakat berminat mengelola pekarangan untuk konservasi lingkungan.

(Red Fira, editor Tyas, pict PW, Harris)

X