IESA WEBTALK: “Covid-19, Kapan Mereda? Model Pandemi Covid-19 di DKI Jakarta, Simulasi Fenomena dan Intervensi Para Pihak dengan Systems Thinking”

Saturday, March 28 th, 2020 · ,

Pada Desember 2019 dunia dikejutkan dengan adanya virus baru yang menyerang saluran pernafasan dan radang paru yang mewabah di Kota Wuhan, China. Kejadian ini mengagetkan seluruh dunia karena telah terjadi 68.500 kasus di China hingga Februari 2020. Pada awal Januari 2020 Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi virus tersebut sebagai Novel Coronavirus atau 2019-nCoV kemudian pada Februari 2020 diumumkan nama resmi virus ini adalah COVID-19. Virus ini menyebar dengan sangat cepat melalui kontak langsung dengan penderita yang terinfeksi. Dan ternyata kejadian ini tidak hanya terjadi di China tetapi juga hampir di seluruh dunia dimana terdapat lebih dari 118 ribu kasus terinfeksi virus corona di lebih dari 110 negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu WHO mengumumkan kejadian ini sebagai pandemi global.

Penderita COVID-19 pertama kali diumumkan di Indonesia pada tanggal 3 Maret 2020. Hingga 27 Maret 2020 sudah terdapat 1.046 kasus di Indonesia dan diketahui bahwa kejadian paling tinggi terjadi di DKI Jakarta. Sebagai bentuk kontribusi akademisi untuk menyelesaikan persoalan ini maka Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (SIL UI) bersama Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia (IESA) mengadakan seminar secara online dengan judul “Covid-19, Kapan Mereda? Model Pandemi Covid-19 di DKI Jakarta, Simulasi Fenomena dan Intervensi Para Pihak dengan Systems Thinking”. Seminar ini dihadiri oleh 100 orang peserta dari berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta, akademisi, peneliti dan praktisi di bidang kesehatan dan lingkungan, serta mahasiswa.

Pada seminar ini narasumber Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, M.Si (red- Wakil Direktur SIL UI, Ketua Umum IESA, dan Pendiri Systems Thinking dan System Dynamics PPSML SIL UI) membuat model yang memperlihatkan fenomena pandemi Covid19 berdasarkan kejadian di DKI Jakarta dengan menggunakan metode system dynamics. Model dibuat untuk melihat tren perilaku kejadian pandemi Covid-19 tersebut dan intervensinya.

Berdasarkan hasil simulasi selama 240 hari yang dimulai pada Februari 2020 tampak bahwa jumlah orang positif Covid19 bertambah secara perlahan selanjutnya memasuki fase peningkatan jumlah secara cepat (rapid growth) dan pada puncaknya jumlah orang dinyatakan positif Covid19 akan konstan pada hari ke-213. Kondisi konstan adalah kondisi jenuh (tunak) karena sudah hampir semua orang rentan tertular sekalipun ada yang menunjukkan gejala klinis (simptomatik) maupun yang tidak menunjukkan gejala klinis (asimptomatik).

Intervensi dapat dilakukan dengan menurunkan aktivitas kontak untuk memperkecil penularan virus Covid19 dari satu orang ke orang lainnya atau bahkan ditiadakan sama sekali. Penurunan aktivitas kontak dapat bersifat sebagian (parsial) maupun secara total, namun dari hasi simulasi keduanya memperlihatkan hasil bahwa jumlah orang positif Covid19 akan berkurang secara signifikan. Di sisi lainnya intervensi dengan menurunkan aktivitas kontak misalnya dengan kebijakan lockdown akan menimbulkan kerugian ekonomi.

Pada seminar ini kesimpulan yang dapat diambil dengan hanya didasarkan pada hasil simulasi model (tanpa mempertimbangkan hal lain) adalah 1) Tanpa intervensi, pandemi Covid19 di DKI Jakarta akan berlangsung dengan pola perilaku sigmoid (kurva-S) dan diprediksikan akan mencapai kondisi tunak setelah 7 bulan sejak Februari 2020 dengan jumlah kasus positif Covid19 mencapai lebih dari 150.000 kasus. 2) Intervensi kebijakan menurunkan aktivitas kontak dapat menurunkan kasus positif Covid19 dengan hasil yang sangat baik.

Oleh karena itu, melalui seminar ini narasumber dan Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan, Dr. Emil Budianto mengajak semua pihak untuk saling bekerjasama mengurangi pandemi ini dengan cara mendisiplinkan diri, menjaga kebersihan, dan mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing.

(red: Wezia Berkademi, M.Si)
Part 1:
Part 2:
Part 3:
X