Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Lingkungan Edward G. Hasiholan Simanjuntak

Monday, July 16 th, 2018 ·

Program Doktor Program Studi Ilmu Lingkungan, Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia kembali menyelenggarakan Sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Lingkungan pada Sabtu, 14 Juli 2018 di Aula Gedunga IASTH Lt.4, Kampus UI Salemba.

Kandidat Doktor pada Sidang terbuka kali ini adalah Edward G. Hasiholan Simanjuntak mempresentasikan disertasinya dengan judul : ” Social Environmental Economic Accunting Matrix (SEEAM): Sistem Akuntansi Untuk Mengevaluasi Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat “.Sidang dipimpin oleh Dr. Emil Budianto. Adapun sebagai Komisi pembimbing terdiri dari Prof. Emil Salim, M.A., Ph.D., sebagai Promotor; Dr. Mubariq Ahmad dan Dr. Slamet Sutomo sebagai Ko-Promotor. Sebagai panitia penguji adalah Dr. Ir. Setyo Sarwanto Moersidik, DEA. dan Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, M.Si; serta sebagai Penguji Ahli adalah Prof. Dr. Abuzar Asra, M.Sc. dan Dr. Djoni Hartono, S.Si., M.E.

  

Dalam presentasinya, Edward G. Hasiholan Simanjuntak menjelaskan bahwa Pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) dalam Pembangunan ekonomi menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada saat eksploitasi SDA dan proses produksi. Emisi GRK adalah output dari pemanfaatan SDA sebagai Input pada proses produksi dalam pembangunan ekonomi yang menimbulkan perubahan iklim. Dampak perubahan iklim di Indonesia berupa banjir, tanah longsor, berbagai penyakit, badai tropis, kebakaran hutan, kekeringan dan angina putting beliung. Dampak tersebut antara lain berupa penurunan GDP sebesar 2.2%-6,7% sampai tahun 2100. Hasil produksi tanaman pangan dataran tinggi menurun 20%-40%. Pemukim di daerah pesisir terancam kehilangan tempat pemukiman dan tempat bekerja. Timbulnya penyakit seperti malaria dan demam berdarah, kehilangan tempat tinggal dan kesulitan memperoleh air. Dampak perubahan iklim ini mempengaruhi perekonomian dan masyarakat tetapi belum tercermin dalam system akuntansi yang menjadi dasar pengambilan keputusan pembangunan ekonomi. Sistem akuntansi yang mengintegrasikan data ekonomi, social dan lingkungan akan mendorong kebijakan pembangunan lebih berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah Membangun system akuntansi tersebut yaitu Social Environmental Economic Accounting Matrix (SEEAM) tahun 2008 dengan mengintegrasikan Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) dengan dampak perubahan iklim yang ditimbulkan oleh emisi GRK. Lebih lanjut, penelitian ini juga melakukan analisis atas SEEAM untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap sektor produksi, faktor produksi, Institusi, nilai tambah perekonomian (PDB) dan pendapatan masyarakat serta distribusinya. Penyusunan SEEAM menggunakan basis SNSE tahun 2008 dan data sekunder dari Instansi dan Institusi serta perorangan dengan memperhitungkan dampak perubahan iklim berupa nilai non-market dari SDA LUCF,deplesi SDA LUCF, Bahan Bakar Minyak, Gas Alam dan Batubara serta output Degradasi Lingkungan berupa emisi GRK. Dampak perubahan iklim dihitung berdasarkan nilai ekonomi dan dialokasikan ke sektor produksi, faktor produksi dan institusi di SNSE tahun 2008 dengan mengacu kepada pemanfaatan SDA dan kontribusi emisi GRK serta pola konsumsi dan Pendapatan Institusi serta pengeluaran yang dilakukan Faktor Produksi, Sektor Produksi dan Institusi berdasarkan data Tabel Input Output Harga Produsen BPS Tahun 2008. Analisis atas SEEAM menggunakan comparative analysis dan multiflier effect analysis serta cost and benefit nnalysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim memberikan keseimbang baru pada sektor produksi, faktor produksi dan institusi serta menurunkan PDB tahun 2008 sebesar Rp 215.336,64 Miliar atau 4,17% PDB. Lebih lanjut, pendapatan Institusi, nilai tambah dan konsumsi atas Output Sektor Produksi mengalami penurunan khususnya sektor yang memanfaatkan SDA. Input SDA LUCF sebanyak 2.073.015 Ha berkontribusi menambah emisi GRK senilai Rp 146.210,85 miliar. Pemanfaatan SDA LUCF dan SDA Perubahan iklim lainnya akan berdampak kepada menurunnya pendapatan secara jangka panjang khususnya Pemerintah karena tambahan pengeluaran untuk adaptasi perubahan iklim. Pemerintah harus menaikkan 100-200% dari harga per Ha LUCF untuk dapat menutupi pengeluaran-pengeluaran tersebut atau membuat pemanfaatan SDA menjadi efisien dan dapat mendukung pembangunan berkelanjutan. Kebaruan penelitian ini adalah pada penyusunan SEEAM yang mengintegrasikan kegiatan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup dengan menggunakan nilai moneter sehingga dapat menjadi alat analisis kebijakan pembangunan yang berkelanjutan.

Sebuah uji coba pada domain pencarian tenaga kerja di Indonesia telah dilakukan untuk memperlihatkan seberapa jauh capaian hasil pendekatan ini. Dari uji coba didapatkan hasil utama adalah semakin banyak perubahan maka nilai F-measure semakin cenderung menurun, tidak terjadi perbedaanyang signifikan dalam F-measure untuk berbagai jenis modifikasi Add, Delete, Rename dan pemilihan algoritma yang tepat akan memperbaiki F-measure.

Berdasarkan hasil sidang senat, Promovendus dinyatakan Lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

X